STRATEGI INTELIJEN DALAM KENDALI SITUASI KONDISI MAY DAY 2026
Media Suara Demokrasi - Nasional,
1 May merupakan puncak perhelatan MAY DAY pada setiap tahunnya, identik dengan aksi turun ke jalan, memaksa para buruh dan pekerja sektor swasta untuk menghentikan aktivitasnya dan ikut dalam aksi. Sasarannya adalah mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Kota, Provinsi hingga pusat. Membeludaknya massa aksi selain menimbulkan kemacetan juga sangat berpotensi disusupi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu untuk menjalankan aksinya. MAY DAY khususnya di Indonesia punya satu tuntutan yang anehnya hampir setiap tahun di suarakan yakni kesejahteraan, perlindungan hak-hak buruh pekerja dan penghapusan outsourcing. Tuntutan tersebut tetap sama yang berubah pola penanganan aksinya yang berbeda-beda.
Mantan aset militer Intel Unit 2, Hermawan Syarif, S.Sos., SH., menanggapi pola penanganan aksinya di tingkat nasional. Pemerintahan Prabowo, memakai pola persuasif dalam meredam aksi meluas di ibukota, dengan bersama-sama kelompok buruh dan pekerja yang tergabung dalam berbagai Konfederasi Serikat dan Federasi Serikat menggelar aksi di silang Monas. Strategi ini diyakini dari kajian dan analisis data informasi intelijen untuk meminimalisir dan mendeteksi kehadiran pihak-pihak yang dengan sengaja memanfaatkan momentum MAY DAY tersebut.
MAY DAY tak selalu tentang aksi unjuk rasa yang anarkis dan bermuatan kepentingan (Hermawan Syarif, S.Sos,. SH.)
Dari tahun ke tahun peringatan MAY DAY selalu diwarnai ketegangan dan gesekan, namun sadar atau tidak bahwa tuntutan yang disuarakan itu memiliki tajuk yang sama. Anehnya setelah peringatan MAY DAY semua kembali berjalan seperti sedia kala dan tidak ada barometer real tentang kelanjutan dari tuntutan tersebut. Seperti evoria sesaat yang dihadirkan sebagai bentuk peringatan MAY DAY Internasional. Strategi antisipasi pihak pemerintah pun cukup brilian dengan menjadikan MAY DAY yang jatuh pada 1 Mey setiap tahunnya menjadi hari libur nasional.
Hermawan mengungkapkan bahwa ada banyak cara meredam dan meminimalisir kelompok-kelompok yang di nilai cukup ekstrim yang memakai bendera Konfederasi Serikat atau pun Federasi. Sama diketahui bahwa selalu ada kepentingan dalam setiap agenda dan kekuatan finansial di sana, selain pendekatan dialogis ada cara yang tidak biasa yang cukup efektif yakni dengan memecah kekuatan massa yang ujung issue dipoles dengan kepentingan serta kekuatan finansial. Patut dipahami bahwa kepintaran tak cukup pintar melawan kecerdasan yang menjadi kekuatan serta dasar dari strategi intelijen dalam mengendalikan situasi kondisi.(msd/***)