KASUS DUGAAN KORUPSI PENGADAAN AMBULANCE BANTUAN CSR PTVI
Media Suara Demokrasi - Luwu Timur,
Dugaan kasus korupsi pengadaan ambulance desa senilai 6,8 miliar menjadi sorotan publik, bukan karena proses hukumnya atau namun kuat dugaan kasus dugaan korupsi tersebut menyeret nama orang terdekat Irwan Bachri Syam atau dikenal dengan IBAS yang tiada lain adalah Bupati Luwu Timur. Menurut informasi yang di peroleh dari lapangan disebutkan bahwa sejumlah Desa telah melakukan pembayaran namun ada beberapa unit yang belum diterima. Kejadian tersebut jelas membuat publik bertanya-tanya ditambah lagi oleh aksi diam Bupati Luwu Timur.
Terduga kasus korupsi pengadaan ambulance program CSR PT VALE Indonesia Tbk. merupakan orang dekat Bupati Luwu Timur (msd red.)
Pria berkepala plontos berinisial ES selama ini dikenal sangat vokal dan tidak segan-segan melontarkan kritikan pedas terhadap orang-orang yang di nilai bersebrangan dengan IBAS melalui sejumlah akun palsunya di sosial media. Justru setelah mendapatkan kesempatan dan kepercayaan ES di duga melakukan tindak korupsi pengadaan unit ambulance untuk 26 Desa di Kabupaten Luwu Timur.
Adapun sumber dana pengadaan tersebut berasal dari program CSR PT VALE Indonesia Tbk. sebentar penunjang prasarana kesehatan.
Dugaan korupsi tersebut terendus saat sejumlah desa sebagai penerima manfaat tidak menerima unit ambulance meski telah melakukan pembayaran. Hal tersebut di benarkan oleh mantan Invest Intel Kontraktor VALE dan aset Unit 2 Intelrem 421, Hermawan Syarif, S.Sos., SH.
Menurut Hermawan dugaan korupsi tersebut sempat terbantahkan oleh pernyataan tidak resmi ES melalui salah satu rekanannya yang menyebutkan kemungkinan pengadaan unit masih berproses, namun tentu prosesnya bisa saja dilacak sampai sejauh mana progressnya hingga akhirnya ES kemudian terkesan menghindar dan tidak dapat di hubungi.
Lanjut Hermawan mengungkapkan bahwa dugaan kasus korupsi ini kemudian jadi viral setelah sejumlah akun sosial media mengunggahnya hingga bola panas bergulir ke IBAS, karena ES dikenal sebagai loyalis IBAS dan gorengan dugaan kasus korupsi tersebut makin hangat karena ada kesan bahwa IBAS memilih diam serta tidak merespon terkait pertanyaan tentang keberadaan ES.
Pertanyaannya sederhana:
Kenapa Bupati Luwu Timur terkesan diam?
Seperti yang di kutip dari sejumlah akun media sosial semakin menegaskan bahwa dugaan kasus korupsi tersebut bukanlah hoax yang menyentuh ke ranah politik.
Di saat masyarakat butuh jawaban, pemerintah daerah justru dinilai belum memberi penjelasan terbuka kepada publik. Padahal ini menyangkut hak kesehatan masyarakat desa dan yang bersangkutan adalah orang dekat IBAS. (msd/***)